Rabu, 20 Agustus 2014



Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu khususnya di Bali, melaksanakan tradisi pengrupukan. Tradisi ini semacam prosesi mengembalikan bhuta kala ke asalnya. Menurut kepercayaan, mereka dibangunkan dengan alat-alat, umumnya obor; api saprakpak, sembur meswi, bunyi-bunyian kentongan yang dibawa mengelilingi seisi rumah. Sementara itu, berwujud ogoh-ogoh, sang “bhuta kala” lalu diarak menuju catus pata, perempatan.
Pawai ogoh-ogoh hampir selalu diadakan tiap kali menyambut hari raya Nyepi Rupa mereka direka sedemikian rupa dengan variasi bentuk menyeramkan. Ada yang berwujud raksasa, perjelmaan dewa-dewi dalam murti-nya, mengambil tokoh dari cerita pewayangan atau memakai figur-figur yang sedang populer. Mereka dirakit memadukan estetika seni yang memikat secara visual.
Hampir setiap tahun, keberadaan ogoh-ogoh bak penggenap wajib dalam tradisi menyambut Nyepi Pawai semarak selalu menjadi atraksi yang dinanti. Kebanyakan orang pasti bertanya perihal cikal bakal ogoh-ogoh dalam tradisi menyambut Nyepi. Salah satu yang tergelitik adalah Kadek Adhi Indrayana. Dia membuat penelitian tentang ogoh-ogoh secara akademis.
Lulusan S1 Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang mengambil program S2 Kajian Budaya ini, mengangkat keberadaan ogoh-ogoh dalam kaitannya dengan ritual Nyepi. Dalam tesisnya, putra pemilik Sanggar Gases Bali ini mencoba mengupas keberadaan ogoh-ogohdalam hal bentuk, fungsi, dan makna. Ditemui di kantor kecilnya di Jalan Dukuh Sari ketika tengah melayani pelanggan pekan lalu, Kadek Adhi berbagi cerita sekaligus berkenan membagi materi tesisnya.
Ia mengawali perbincangan dengan mengatakan, ogoh-ogoh sebagai suatu bentuk perwujudan. “ogoh-ogoh sesungguhnya merupakan gambaran akan bhuta kala yang diwujudkan ke dalam suatu bentuk,” terang Kadek Adhi.
Penamaan ogoh-ogoh pun diambil dari sebutan ogah-ogah dari bahasa Bali. Artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. ogoh-ogoh diabadikan bahkan dalam sebuah lagu Bali cukup populer. Kata-kata itu dicatumkan sebagai lirik berbunyi “ogoh-ogohogoh-ogoh, kala-kali lumamapah/ ogah-ogah, ogoh-ogoh, ngiterin desa…”.
Tahun 1983 bisa menjadi bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di Bali. Pada tahun itu mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala berkenaan dengan ritual Nyepi di Bali. “Ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional,” tutur Kadek Adhi. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar.
Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII. Delapan kabupaten ikut berkontribusi. Sebelum itu, menurut Kadek Adhi, hanya ada pawai-pawai tanpa ada bentuk perwujudan.
Lelakut
Tradisi mengembalikan Bhuta Kala ke asalnya di hari pengrupukan, disimbolkan dengan ogoh-ogoh, mirip tradisi lama masyarakat Hindu Bali. Tradisi Barong Landung, Tradisi Ndong Nding dan Ngaben Ngwangun yang menggunakan ogoh-ogoh Sang Kalika, disebutkan Kadek Andhi bisa juga dirujuk untuk menelusuri cikal bakal wujud ogoh-ogoh.

Di dalam babad, tradisi Barong Landung berasal dari cerita tentang seorang putri Dalem Balingkang, Sri Baduga dan pangeran Raden Datonta yang menikah ke Bali. Tradisi meintar mengarak dua ogoh-ogoh berupa laki-laki dan wanita mengelilingi desa tiap sasih keenam sampai kesanga. Visualisasi wujud Barong Landung inilah yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya ogoh-ogoh dalam ritual Nyepi
“Ada tradisi Ndong-nding yang bisa juga dirujuk,” tambah Kadek Adhi. Ngusaba Ndong nding semacam tradisi pengusiran hama di Karangasem, menurut Kadek Adhi, ritual ini menggunakan lelakut, semacam orang-orangan sawah. Hama diibaratkan sebagai sang bhuta kala, energi negatif yang mengganggu manusia.
Begitu halnya ketika hari pengrupukan. Sang Bhuta Kala diberi upah berupa pecaruan, lalu disomya, disadarkan agar kembali ke asalnya. Dualisme itu ada dan harus diseimbangkan.
“Ada mantra khan yang bunyinya dewa ya, bhuta ya, kala ya,” ujarrnya. Diterangkannya, dewa dari div berarti sinar; bhuta dari bhu berarti gelap. Sedangkan kala yang berada di tengah-tengah, berarti energi atau kekuatan bisa juga waktu.
“Maka, ketika kala terpengaruh bhuta dia mengandung energi kegelapan, negatif menjadi bhuta kala. Sebaliknya, begitu juga pada dewa,” terangnya. Sifat-sifat itu juga ada dalam manusia. “Bila kita marah, menyeramkan, kita memiliki sifat-sifat bhuta,” urai kadek Andhi yang juga mengabdi sebagai mangku.
ogoh-ogoh menurut Kadek Andhi juga digunakan dalam upacara ngaben. “Ada namanya Ngaben Ngwangun, salah satu tingkatan upacara ngaben, bisa berupa kakek atau nenek,” ungkapnya sembari menerangkan juga perihal Sang Kalika.
Kaca Rasa
ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Bali. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi. “Ada budaya-budaya yang mengalami proses tersakralisasi dan itu sah-sah saja,” paparnya. Eksistensi tradisi dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Bali saling melengkapi, sudah baur menjadi kesatuan.

Seiring waktu banyak yang mengkaji keberadaan ogoh-ogoh baik dari tafsir agama, seni dan budaya. “Setelah dikaji dan dikaitkan dengan konsep agama, ogoh-ogoh lebih mengarah ke bentuk tradisi,” ujar kadek Adhi.
ogoh-ogoh merunut jejaknya, kemunculannya lebih kepada suatu bentuk simbolisasi. Menyimbolkan energi-energi negatif sang bhuta kala, dengan perwujudan menyeramkan untuk dipralina, dilebur dengan air maupun api. “Umpamanya, kalau mau mengusir yang jahat pakailah perwujudan yang serem juga,” candanya. Logika ini ia namai dengan konsep kaca rasa, yang memberikan suatu cerminan atas sesuatu yang terlihat.
“Sebagai suatu bentuk karya seni, ia juga tak bisa dilepaskan dari unsur Satyam, Siwam dan Sundaram,” jelasnya. Konsep penciptaan dalam masyarakat Hindu sangat terkait dengan unsur Kebenaran (satyam), kebaikan/kesucian (siwam) dan keindahan (sundaram).

sumber : http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/02/28/ogoh-ogoh-simbol-bhuta-kala-menjelang-nyepi.html

Senin, 04 Agustus 2014

ini adalah salah satu gaya dari pemain surfing yang sedang menikmati ombak yang berada di G-Land. salah satu pemain surfing ini adalah pemain surfing yang sudah sangat pro dalam permainan surfing. G-Land terkenal dengan ombaknya yang sangat menarik wisatawan untuk mencoba dan tertantang dalam bermain surfing di G-Land.

Sabtu, 19 Juli 2014

Info Angin Dan cuaca

Cuaca: Berawan
Angin: Timur - Tenggara, 02 - 24 knot
Gelombang: 0.3 - 1.3 m
sumber : http://maritim.bmkg.go.id/index.php/main/pra_penyeberangan_det/3

Fetival Layang-Layang Raksasa Digelar di Bali

Sebuah festival tahunan lomba layang-layang raksasa digelar di Lapangan Padang Galak, Sanur, Denpasar, Bali, baru-baru ini. Sekitar 679 layang-layang dengan berbagai jenis diterbangkan menghiasi angkasa Pulau Dewata. Festival ini diikuti para peserta dari Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. Dalam festival ini, layang-layang Bali seperti bebehan, pecuk, dan janggan cukup membetot perhatian para peserta. Karena bentuk layang-layang itu besar dengan lebar minimal lima meter dan lebar tujuh meter, sekurangnya diperlukan 15 orang untuk bisa menaikkan layang-layang. Panitia festival menyediakan sejumlah hadiah bagi para pemenang lomba. Hadiah meliputi tropi tetap dan piala bergilir serta uang tunai sebesar Rp 1.750.000 bagi juara satu dan Rp 1,5 juta bagi juara dua. Festival layang-layang ini sengaja digelar buat promosi wisata dan melestarikan budaya Bali. Selain itu festival layang-layang ini juga berfungsi sebagai pengusir burung atau sebagai perlambang Dewa Wisnu.(MAK/Aries Wicaksono dan Putu Setiawan) - See more at: http://news.liputan6.com/read/106307/fetival-layang-layang-raksasa-digelar-di-bali#sthash.wkMpbVld.dpuf

Festival Layang-layang di Bali

Festival layang-layang di Bali merupakan event tahunan yang ditunggu-tunggu pecinta layangan. Festival ini bisanya di selenggarakan pada musim angin di Bulan Juli – Agustus, pada tahun ini baru saja berakhir pada tanggal  31/7/2011. Layang-layang sudah menjadi budaya hidup masyarakat Bali, permainana ini merupakan hobi dan juga olah raga yang membutuhkan partisipasi banyak orang dari berbagai kalangan, baik tua muda bahkan wanitanya juga seringkali terlibat di dalamnya. Menurut beberapa tokoh agama, permainan ini juga mempunyai signifikansi religius yang di persembahkan kepada dewa “Rare Anggon” yang harus di hibur sebagai pelindung petani dan peternak agar sawah, ladang dan ternaknya jauh dari gangguan wabah penyakit. Festival kali ini meruakan festival ke 33 yang di jadwalkan tahunan, awalnya di mulai pada tahun 1979, yang diikuti oleh peserta dari international kite flying club. Saat festival, ribuan peserta dan pecinta layangan akan membanjiri arena serta membawa layangan dari berbagai style, warna dan ukuran. Jenis umumnya, layangan tradisional bebean, jangan, pecukan, dan layangan kreasi baru. layang ini akan menghiasai langit biru diiringi gamelan gong bali bertalu-talu…..sungggh semarak festival layang-layang di Bali. Salam wisata Bali.

Mengenal lebih jauh tentang Layang – Layang

Layang – layang diperkirakan berkembang 500 SM di China. Lalu menyebar di negara – negara agraris. Namun di Gua Muna, Sulawesi Tenggara ditemukan sebuah lukisan Purba yang menggambarkan seseorang bermain layangan, dan diperkirakan berusia 6000 tahun yang lalu.

Namun belum ada catatan yang pasti kapan layang – layang diciptakan. Semua data diatas masih diteliti dan diperdebatkan oleh para ahli. Yang pasti layang – layang telah menjadi bagian ritual masyarakat di berbagai negara dan daerah di Indonesia selama berabad – abad.

Di beberapa negara layangan mempunyai nama atau sebutan tersendiri, seperti Malaysia disebut Wow, Brunei disebut Pekikik, Korea disebut Ion dan Jepang disebut Tako. Mitos tentang Layangan juga berbeda – beda setiap negara, seperti di Korea, layang - layang diterbangkan jika ada bayi yang baru lahir, namanya ditulis di layang - layang untuk mengusir roh jahat, setelah terbang diputus yang dipercaya membawa terbang jauh sang roh jahat. Di Malaysia, menerbangan layangan di atas rumah pada malam hari juga dipercaya dapat mengusir roh jahat. Di Jepang, layang – layang diterbangkan sebagai peringatan hari kelahiran anak laki – laki. Dan di Thailand, layang – layang dipercaya sebagai penghalau hujan.

Di Indonesia, berbagai ritual dan perlombaan tradisional layang – layang juga berkembang di berbagai daerah. Di Muna, Sulawesi Tenggara, layang – layang diterbangkan selama 7 – 10 hari berturut – turut sebagai rasa syukur akan panen yang melimpah. Di Lampung dan Sulawesi Selatan, layang – layang digunakan untuk memancing ikan di laut. Dalam hal perlombaan di berbagai daerah mempunyai perinsip penilaian yang berbeda – beda. Di Sumatra pemenang dinilai dengan kemampuannya terbang rendah dan bisa naik lagi. Sedangkan di Kalimantan, pemenang lomba layangan dicari dengan cara adu sobek. Pada layangannya diberi bambu runcing.

Menurut Pak dayat, pembuat layang – layang dari Museum Layang – Layang, dalam membuat layangan mempunyai beberapa prinsip. Pertama, bentuk aerodinamisnya, Kedua, harus sama kanan kiri ( simetris ) untuk keseimbangan. Ketiga, kerangka layangan cenderung dari membesar ke bawah mengecil, untuk membuang angin. Layangan tidak hanya menampung angin tetapi juga membuang sehingga bisa dikendalikan.

Sedangkan dari segi jenis, Layang – layang terbagai dalam tiga jenis, yaitu Tradisional dan Kreasi Baru serta layang – layang Sport/Olahraga. Layangan Tradisional adalah layangan yang dibuat dari bahan – tradisional, seperti, Kertas, Daun Gadung, Daun Dadap, Daun Loko - Loko, Pelepah Pisang, dan kerangka dari Bambu serta benang dari Benang Nylon, Benang Gelasan, Serat Nanas dan Tali Tambang.

Perbedaan prinsip dari layangan tradisional dengan layangan Kreasi adalah strukturnya yang berbahan dari bambu dan permanent, tidak knock down. Kalau terbuat dari bambu tapi knock down masuk dalam layang - layang kreasi. Sedangkan Layang – layang kreasi terbagi dalam dua bentuk, yaitu 2 dimensi dan 3 dimensi.

Layang – layang Sport terbagi dalam 3 jenis, yaitu Stand kite, Quadrifoil dan Revolution
Stand Kite, ada 3 jenis:
1. Tanpa Angin. Yang dimaksudkan olah raga adalah kita berlari tapi bisa dikendalikan. Lokasinya berada didalam ruangan yang tertutup dan tidak ada angin sama sekali. Bahanya juga tipis dan ringan.
2. Angin Sedang, layangan ini bisa melakukan trik, menari, berjalan, dan lainnya dengan ketinggian kurang lebih dari darat 1 meter.
3. Angin Kencang. Layangan dengan beban tarikannya cukup lumayan, bisa meliuk membuat angka 8 atau segitiga

Quadrifoil, bisa untuk berolah raga, bebannya seperti angkat berat, dengan tarikan pertama bisa mencapai 100 kilo, tetapi jika sudah terbang beratnya semakin berkurang. Layang – layang jenis ini pernah terlihat pada iklan sebuah perusahaan rokok yang tampak seperti bermain skateboard menggunakan parasut. Ada juga yang tampak menggunakan kendaraan yang disebut Buggy. Dengan posisi duduk, buggy melaju dan pemainnya mengendalikan arah dari layang – layang yang tertiup angin.

Revolution. Ada 2 karatkter. Pertama, tidak ada angin, di dalam ruangan. Kedua Angin Kencang. Kehebatannya bisa untuk melukis, bentuknya segi tiga, panjang sekitar 1,5 tinggi 1 meter. Dengan jarak 15 meter, pensil / kuas diikatkan di ujungnya, dihadapkan di atas kertas atau kanvas.

Nah, Ternyata Layang – layang begitu luas ya cakupannya. Dari hal yang sederhana ternyata bisa menjadi mata pencaharian serta prestasi tingkat dunia.

Sumber: http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/1934277-mengenal-lebih-jauh-tentang-layang/#ixzz1XlV4ihtf